Resume day 3 Fakultas

 

Unusa


Materi 1

PERAN MAHASISWA KESEHATAN DALAM PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT 

Pemateri: CaturWulandari S.ST., M.GIZI


Future ready mindset adalah pola pikir yang mempersiapkan mahasiswa untuk menghadapi perubahan, ketidakpastian, dan tantangan di masa depan. Mahasiswa kesehatan harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, globalisasi, dan dinamika sosial yang cepat. Pola pikir ini menekankan pentingnya kesiapan mental, akademik, serta keterampilan sosial. Dunia kesehatan kini tidak hanya fokus pada teori, tetapi juga pada penerapan digitalisasi dan big data. Oleh karena itu, mahasiswa harus menguasai ilmu sekaligus memiliki sikap fleksibel terhadap perubahan.

Mahasiswa perlu mengembangkan resiliensi agar mampu bangkit dari kegagalan. Adaptabilitas juga penting supaya bisa menyesuaikan diri dengan sistem atau regulasi baru. Kreativitas membuat mahasiswa mampu menciptakan solusi di tengah keterbatasan. Inovasi mendorong keberanian untuk menerapkan ide-ide baru dalam pelayanan kesehatan. Setiap jurusan kesehatan menghadapi tantangan berbeda, tetapi semua membutuhkan kesiapan yang sama. Mahasiswa gizi, misalnya, tidak hanya menghitung kalori, tetapi juga memberi edukasi melalui media digital.
Mahasiswa analis kesehatan dituntut mampu menguasai alat laboratorium modern. Mahasiswa K3 harus bisa membuat SOP keselamatan kerja dan melatih orang lain dengan baik. Mahasiswa kesehatan masyarakat ditantang untuk mengedukasi publik dengan strategi komunikasi yang efektif. Semua ini membuktikan bahwa kemampuan teknis saja tidak cukup. Soft skill seperti komunikasi dan kolaborasi sangat dibutuhkan di era sekarang.
Ada beberapa cara menjadi mahasiswa future ready. Pertama, memiliki growth mindset agar melihat kegagalan sebagai peluang belajar. Kedua, belajar mandiri lewat webinar, artikel, atau konten edukatif. Ketiga, menjaga kesehatan mental dengan aktivitas positif seperti journaling atau olahraga. Keempat, membangun kolaborasi lintas jurusan agar terbiasa dengan kerja tim. Kelima, melek teknologi dengan memanfaatkan berbagai platform digital. Dengan bekal tersebut, mahasiswa lebih siap menghadapi tantangan global.


Materi 2

FROM ORGANIZATION TO LEADERSHIP : PERSONAL BRANDING FOR THE NEXT GENERATION

Pemateri ke 2 : Atik Qurrota A'yunin Al Isyrofi, S.KIM,.M.Kes

Topik "From Organization to Leadership: Personal Branding for the Next Generation" membahas transisi penting dalam karier, yaitu dari sekadar menjadi bagian dari sebuah organisasi (sebagai karyawan atau anggota tim) menjadi seorang pemimpin yang diakui. Fokus utamanya adalah membangun dan mengelola merek pribadi (personal branding) sebagai alat strategis untuk mencapai tujuan ini.

​Mengapa Merek Pribadi Penting?

​Merek pribadi adalah persepsi atau reputasi yang dimiliki orang lain tentang diri Anda. Di era digital saat ini, hal ini lebih dari sekadar nama dan gelar Anda; ia mencakup nilai-nilai, keahlian, dan kontribusi unik yang Anda tawarkan. Bagi generasi mendatang, personal branding menjadi sangat krusial karena beberapa alasan:

​Pembeda (Differentiation): Di tengah persaingan yang ketat, merek pribadi yang kuat membedakan Anda dari orang lain. Ini membantu Anda menonjol dan lebih mudah diingat oleh atasan, rekruter, atau calon klien.

​Visibilitas dan Peluang: Merek yang terkelola dengan baik meningkatkan visibilitas Anda, membuka pintu bagi peluang baru seperti promosi, proyek menarik, atau peran kepemimpinan.

​Kredibilitas dan Kepercayaan: Merek pribadi yang konsisten dan otentik membangun kepercayaan. Ketika orang melihat Anda sebagai ahli di bidang tertentu, mereka lebih cenderung mengikuti atau mendengarkan ide-ide Anda.

​Membangun Merek Pribadi untuk Kepemimpinan

​Proses membangun merek pribadi untuk transisi ke posisi kepemimpinan melibatkan beberapa langkah kunci:

​Identifikasi Jati Diri (Self-Discovery)

​Nilai Inti (Core Values): Tentukan apa yang paling penting bagi Anda. Apakah itu integritas, inovasi, atau kolaborasi? Nilai-nilai ini akan menjadi fondasi dari merek Anda.

​Keahlian Unik (Unique Skills): Kenali keahlian dan kekuatan yang membedakan Anda. Ini bukan hanya keahlian teknis (hard skills) tapi juga keahlian lunak (soft skills) seperti komunikasi, empati, dan pemecahan masalah.

​Tujuan dan Visi: Tentukan apa yang ingin Anda capai. Visi ini akan memberikan arah yang jelas bagi merek pribadi Anda. Apakah Anda ingin dikenal sebagai pemimpin yang inovatif atau pemimpin yang berfokus pada pengembangan tim?

​Membangun Narasi (Crafting Your Narrative)

​Setelah mengidentifikasi jati diri, Anda perlu merangkai cerita (narrative) yang kohesif. Cerita ini harus menjelaskan siapa Anda, apa yang Anda lakukan, dan mengapa itu penting.

​Narrasi ini harus tercermin dalam semua interaksi dan platform Anda, dari profil LinkedIn hingga cara Anda berbicara di rapat.

​Aktivasi dan Promosi (Activation and Promotion)

​Konten Online: Aktiflah di platform profesional seperti LinkedIn. Bagikan wawasan, tulis artikel, atau berpartisipasi dalam diskusi yang relevan dengan bidang Anda. Konten ini menunjukkan keahlian Anda dan membangun kredibilitas.

​Jejaring (Networking): Bangun hubungan yang otentik dan saling menguntungkan. Hadiri acara industri, terhubung dengan para pemimpin di bidang Anda, dan tawarkan bantuan atau wawasan.

​Tunjukkan Kepemimpinan (Demonstrate Leadership): Jangan menunggu untuk diberi peran kepemimpinan. Ambil inisiatif dalam proyek, menjadi mentor bagi rekan kerja, atau sukarela untuk memimpin sebuah tim. Tindakan ini menunjukkan bahwa Anda memiliki potensi kepemimpinan bahkan sebelum Anda memiliki gelar resminya.

​Tantangan dan Tips untuk Generasi Berikutnya

​Generasi mendatang menghadapi tantangan unik dalam membangun merek pribadi, terutama karena batas antara kehidupan pribadi dan profesional semakin kabur di media sosial.

​Konsistensi adalah Kunci: Pastikan citra yang Anda proyeksikan secara online dan offline konsisten. Inkonsistensi dapat merusak kredibilitas Anda.

​Otentisitas: Jangan mencoba menjadi orang lain. Merek pribadi Anda harus otentik dan mencerminkan diri Anda yang sebenarnya. Orang dapat dengan mudah mendeteksi ketidakjujuran.

​Manajemen Reputasi: Berhati-hatilah dengan apa yang Anda posting. Segala sesuatu di internet berpotensi untuk tinggal selamanya. Lakukan audit digital secara berkala untuk memastikan jejak digital Anda sejalan dengan merek pribadi yang Anda bangun.


Materi 3

FUTURE READY MINDSET : MENJADI MAHASISWA KESEHATAN YG TANGGUH

Pemateri : Erricha Daring Irbah,.S.Gz


​"Future Ready Mindset" adalah pola pikir atau sikap proaktif yang mempersiapkan mahasiswa kesehatan untuk menghadapi dinamika dan tantangan yang tidak terduga di dunia kerja. Tujuannya adalah untuk tidak hanya memiliki pengetahuan klinis yang kuat, tetapi juga memiliki daya tahan, adaptabilitas, dan kesiapan mental yang memungkinkan mereka untuk berhasil dan tidak mudah "kaget" saat lulus nanti.

​Dunia kesehatan terus berubah, didorong oleh teknologi, data, dan perubahan demografi. Kurikulum tradisional mungkin tidak sepenuhnya bisa menutupi semua tantangan ini. Oleh karena itu, memiliki pola pikir ini sangat penting untuk menjembatani kesenjangan antara teori di kampus dan praktik di lapangan.

​Pilar-Pilar Utama 'Future Ready Mindset'

​Materi ini biasanya terbagi menjadi beberapa pilar utama yang harus dikuasai oleh mahasiswa kesehatan:

​1. Pilar Adaptabilitas & Fleksibilitas

​Dunia kesehatan penuh dengan ketidakpastian. Hari ini Anda mungkin merawat pasien dengan kondisi umum, besok bisa jadi ada kasus langka yang memerlukan pendekatan yang benar-benar baru.

​Pentingnya: Mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi (misalnya, penggunaan rekam medis elektronik), protokol baru, atau bahkan pandemi global.

​Cara Mengembangkan:

​Belajar Mandiri: Jangan hanya bergantung pada materi kuliah. Cari tahu tentang tren terbaru, studi kasus, dan teknologi kesehatan.

​Terbuka pada Perubahan: Jangan takut mencoba metode atau alat baru. Anggap setiap perubahan sebagai kesempatan untuk belajar.

​Simulasi dan Studi Kasus: Ikut serta dalam simulasi atau diskusi studi kasus di luar kelas. Ini melatih Anda untuk berpikir cepat dan menyesuaikan diri dengan situasi yang tidak terduga.

​2. Pilar Keterampilan Kritis (Critical Skills)

​Lulusan kesehatan masa depan tidak hanya butuh hard skills (pengetahuan medis), tetapi juga soft skills yang kuat.

​Pentingnya: Pasien semakin kompleks, dan tim kerja semakin beragam. Kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, dan memecahkan masalah adalah kunci.

​Cara Mengembangkan:

​Komunikasi Efektif: Latih cara berkomunikasi dengan pasien dari berbagai latar belakang, serta dengan rekan sejawat dan atasan. Komunikasi yang jelas bisa menyelamatkan nyawa.

​Kerja Sama Tim: Ikut dalam proyek kelompok atau organisasi mahasiswa. Ini mengajarkan Anda cara berinteraksi dan berkontribusi dalam tim multidisiplin.

​Empati dan Kecerdasan Emosional: Latih diri untuk memahami dan merespons emosi orang lain—baik pasien maupun kolega. Empati adalah fondasi dari pelayanan kesehatan yang baik.

​3. Pilar Pembelajaran Seumur Hidup (Lifelong Learning)

​Lulus dari kampus bukanlah akhir dari pembelajaran. Pengetahuan medis terus berkembang.

​Pentingnya: Untuk tetap relevan dan kompeten di bidangnya. Apa yang Anda pelajari hari ini bisa jadi sudah usang dalam 5-10 tahun.

​Cara Mengembangkan:

​Keingintahuan yang Tinggi: Jadilah pribadi yang selalu ingin tahu dan bertanya. Jangan ragu mencari referensi dan mengikuti penelitian terbaru.

​Partisipasi Aktif: Hadiri seminar, webinar, atau konferensi profesional. Ini juga bisa menjadi ajang networking yang penting.

​Membangun Jaringan Profesional: Jalin hubungan dengan para profesional di bidang Anda. Mereka adalah sumber informasi dan mentor yang berharga.

​4. Pilar Ketahanan Mental (Resilience)

​Profesi kesehatan adalah salah satu yang paling menantang secara mental dan emosional.

​Pentingnya: Mampu bangkit kembali setelah menghadapi kegagalan, kehilangan pasien, atau kelelahan (burnout).

​Cara Mengembangkan:

​Manajemen Stres: Kenali gejala stres pada diri sendiri dan pelajari cara mengelolanya, misalnya dengan hobi, olahraga, atau meditasi.

​Mencari Dukungan: Jangan ragu untuk berbicara dengan mentor, teman, atau konselor jika Anda merasa kewalahan.

​Membuat Batasan (Boundaries): Pelajari kapan harus istirahat. Kesehatan mental Anda sama pentingnya dengan kesehatan pasien Anda.

​Kesimpulan

​Pada intinya, Future Ready Mindset adalah tentang melengkapi diri dengan sikap, bukan hanya pengetahuan. Ini adalah investasi pada diri sendiri yang akan memastikan bahwa saat Anda lulus nanti, Anda bukan hanya menjadi seorang profesional yang kompeten, tetapi juga seseorang yang kuat dan siap menghadapi segala tantangan yang ada, tanpa perlu "kaget" dengan kerasnya realita di dunia kesehatan.


MEDIA SOSIAL UNUSA :

* Facebook : https://www.facebook.com/unusaofficialfb

* Instagram : https://www.instagram.com/unusa official/

 Youtube : https://www.youtube.com@unusa official

* Twitter (X) : https://x.com/unusa_official?lang=en

* Tiktok : https://www.tiktok.com/@unusa_official

https://unusa.ac.id

https://fkes.unusa.ac.id/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resume day 1

Resume Dosen Unusa Ajak Masyarakat Pahami Virus SARS-Cov-2 Melalui Rapid Antigen

Ressume day 2